Miliaran Rupiah Hangus! Sajuta Janjang di Agam Terbengkalai: Simbol Kebangkrutan Gagasan dan Lemahnya Negara
LIDIKKRIMSUSNews.com —Agam 22 September 2025 – Apa artinya pembangunan bila hanya meninggalkan puing mangkrak dan luka sosial? Itulah pertanyaan besar yang kini bergema di lereng Gunung Singgalang. Proyek wisata unggulan Sajuta Janjang Lereng Singgalang, yang sejak awal digadang-gadang membawa kejayaan ekonomi bagi Kabupaten Agam, Sumatera Barat, justru berubah menjadi monumen kegagalan pemerintah.
Bayangkan: sejak 2017 miliaran rupiah dana publik dikucurkan, lahan masyarakat dihibahkan, semangat perantau dan anak nagari menyatu, namun hari ini yang tersisa hanyalah bangunan terbengkalai. Mimpi besar itu mati suri, terkubur bersama janji-janji penguasa.
Dari Euforia ke Ironi
Awalnya, gagasan Sajuta Janjang lahir penuh optimisme. Pada Pulang Basamo Perantau Pakan Sinayan se-Jabodetabek tahun 2013, ide ini dipelopori oleh Ketua Umum KRAP Jakarta, Mel Sofyan, bersama perangkat Kanagarian Pakan Sinayan. Sambutannya luar biasa. Perantau dan masyarakat nagari menyatu dalam mimpi besar: membangun ikon wisata kelas dunia di tanah leluhur mereka.
Sebagai tanda awal, Tugu Lereng Singgalang diresmikan Bupati Agam kala itu, disaksikan ribuan warga. Pemerintah daerah dan provinsi bersorak mendukung. Lahan masyarakat dihibahkan, perencanaan disusun, dan dana miliaran rupiah mulai mengalir.
Namun fakta hari ini jauh berbeda. Alih-alih menjadi magnet wisata, Sajuta Janjang hanya menyisakan ironi. Pandemi Covid-19 tahun 2020 memang dijadikan alasan penghentian pembangunan, tetapi kenapa hingga kini tak ada kebangkitan? Di mana komitmen Pemkab Agam? Di mana peran Pemprov Sumbar? Dan mengapa pemerintah pusat diam seribu bahasa?
Strategis, Tapi Ditinggalkan
Lebih menyakitkan lagi, lokasi Sajuta Janjang sangat strategis: hanya 5 kilometer dari Kota Bukittinggi, destinasi wisata utama Sumatera Barat. Logikanya sederhana: jika dikelola dengan serius, Sajuta Janjang akan menjadi penopang vital pariwisata Bukittinggi, sekaligus membuka lapangan kerja dan menghidupkan ekonomi anak nagari.
Tetapi logika publik sering kali kalah oleh logika kekuasaan. Proyek yang seharusnya jadi berkah, justru jadi beban. Yang seharusnya jadi ikon, justru jadi bangkai. Inikah wajah nyata tata kelola pembangunan di negeri ini—megah di konsep, mati di eksekusi?
Suara yang Dikhianati
> “Kini harapan masyarakat nagari pupus dengan terbengkalainya proyek tersebut. Jangan sampai miliaran rupiah yang telah digelontorkan terbuang sia-sia. Kami sangat berharap pemerintah pusat turun tangan agar Sajuta Janjang benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat, khususnya anak nagari Pakan Sinayan,” tegas Mel Sofyan.
Kalimat itu bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan. Jeritan atas pengkhianatan janji pembangunan. Sebab sejak awal, masyarakat rela mengorbankan tanah, tenaga, dan kepercayaan, dengan keyakinan bahwa Sajuta Janjang akan mengubah nasib mereka. Tetapi apa balasannya? Janji dibiarkan busuk, harapan dipasung waktu.
Pertanyaan yang Harus Dijawab Negara Kini publik menuntut jawaban tegas:
Apakah pemerintah daerah hanya menjadikan Sajuta Janjang sebagai proyek pencitraan sesaat?
Apakah dana miliaran rupiah itu dikelola dengan benar atau hanya jadi bancakan segelintir elit?
Mengapa hingga kini tak ada langkah konkrit untuk menghidupkan kembali proyek yang potensial ini?
Tanpa jawaban jujur, Sajuta Janjang akan menjadi bukti sahih bahwa uang rakyat tak lebih dari korban permainan politik dan kelalaian birokrasi.
Saatnya Negara Hadir, Bukan Menghilang
Sajuta Janjang tidak boleh dibiarkan jadi kuburan ambisi pembangunan. Lokasi, potensi, dan semangat masyarakat terlalu besar untuk diabaikan. Jika pemerintah pusat tidak segera turun tangan, yang abadi hanyalah ironi: uang rakyat melayang, mimpi rakyat terkubur, dan kepercayaan rakyat hancur.
Negara tidak boleh lagi sekadar hadir saat seremoni peresmian, lalu lenyap ketika rakyat menagih janji. Kini saatnya pemerintah pusat hadir nyata, bukan sekadar kata.
Sebab jika tidak, Sajuta Janjang akan tercatat dalam sejarah sebagai monumen kegagalan, pengkhianatan janji, dan bukti telanjang bahwa negara kalah mengelola amanah rakyatnya sendiri.
Tim: Investigasi
